Kisah tentang perempuan yang telah menggapai ambisinya. Sebagai politisi sukses, kiprahnya di parlemen dan pelbagai organisasi pergerakan perempuan menempatkan dirinya dalam lingkar elit
-kekuasaan. Latar belakang politik yang masih konservatif kala itu menjadikannya fenomena baru dalam isu kesadaran jender.
Tetapi, kehampaan menyelimuti kehidupan pribadinya dan
hampir membuat jiwanya tercerabut. Masalah demi masalah mendera, bahkan anak semata wayangnya yang dia anggap sebagai harta paling berharga justru lebih akrab dengan sang ibu tiri. Hingga suatu kala, ia memutuskan lari dari kehidupan pribadinya, bahkan berusaha lari dari tabiat perempuannya. Pada usia lima puluh lima tahun, ia membunuh kebahagiaannya sebagai perempuan. la
melakukan apa saja untuk melupakan bahwa ia adalah perempuan.

Nooriman Rizqi Farelsyah Putra

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

stangerten.x 🔥🔥

Aulia Dwi Hapsari (04) - Mengatasi Kesenjangan Digital dalam Pendidikan dan Tantangan Kesenjangan Sosial di Era AI

Daniel Agafe (11) - Implikasi Etis dari Asisten Rumah Tangga AI